Thursday, June 17, 2010 at 11:50 AM | 0 comments  
This story was forwarded to me a while ago by my school's mailing list. Never got round to reading it. Now that I have some time to myself to clear out the backlog of email, just thought I'd re-post this story for your viewing pleasure.

Nama Salman Al Farisi tak asing lagi dalam deretan para pejuang dan pembela agama Allah. Ketakwaannya pun disegani di antara kaum muslimin. Keimananya yang begitu mendalam bahwa hanya Allah yang Maha Besar, sementara yang lain begitu kecil di hadapannya. Demikian juga sikapnya menghadapi masalah-masalah yang bersifat keduniaan, termasuk urusan cinta.

Dikisahkan, Salman Al Farisi hendak melamar seorang gadis. Sebagai manusia biasa yang memiliki fitrah cinta, ia jatuh hati pada seorang muslimah shalihah asli penduduk kota Madinah. Maksud suci ini kemudian ia sampaikan kepada Abu Darda’, seorang saudara yang dipertemukan atas nama aqidah.

Abu Darda’ bahagia menyambut keinginan Salman. Ia bergegas mengantarkan saudaranya ini untuk menemui wali dari sang gadis.

“Perkenalkan Saya adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman yang berasal dari Parsi. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, bahkan ia diberi kehormatan sebagai ahlul bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda,” ucap Abu Darda’ menyampaikan maksud dan tujuan.

Lamaran itu bersambut, “Kami merasa mendapatkan kehormatan menerima tamu dua sahabat Rasulullah yang mulia. Menjadi kehormatan pula bagi keluarga kami jika dapat memiliki seorang menantu dari salah satu sahabat Rasul yang agung. Akan tetapi, kami serahkan sepenuhnya jawaban dari lamaran ini pada putri kami.”

Setelah berdiskus, Ibu dari sang putri pilihan Salman itu mewakili untuk menjawab. “Mohon maaf sebelumnya jika apa yang kami sampaikan kurang berkenan. Dengan tetap mengharap ridha Allah, putri kami menolak lamaran Salman,” jawab sang Ibu.

Belum lagi Salman merespon jawaban itu, Sang Ibu melanjutkan perkataannya. “Akan tetapi, jika Abu Darda’ mempunyai niat yang sama untuk melamar putri kami, maka kami akan menerimanya,” katanya sang ibu.

Wajar bila Salman kecewa. Kekecewaan yang berlipat. Karena tak hanya niat mempersunting sang putri ditolak, namun kenyataannya justru saudara yang diajak membantu melamar malah yang dikehendaki untuk menikahi sang putri. Kebesaran hati Salman sedang diuji.

”Allahu Akbar!” ujar Salman mencuba meluapkan isi hatinya.

”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian,” lanjutnya tanpa ragu.

Menakjubkan. Kekecewaan Salman berujung keikhlasan tiada tara. Salman Al Farisi dengan ketakwaannya yang memuncak memberikan pelajaran tentang sebentuk kesedaran. Kesedaran bahwa cinta yang diinginkan tak selalu bisa dimiliki. Kesedaran tentang bagaimana semestinya menyingkapi rasa cinta yang Allah hendaki untuk kita.

Salman telah mengajarkan, sebagai pejuang, kita harus menjadi majikan cinta, bukan budaknya. Kita harus mampu mengendalikan nafsu dan perasaan, bukan dikendalikannya. Sungguh indah bila mana cinta dan nafsu itu ditunggang dengan keimanan yang tiada taranya kepada Allah dan Rasulnya.

Dan semoga kita bisa, mendapatkan yang terbaik, dipilih Allah untuk menjadi teman di dunia untuk berjuang dalam agamanya dan akhirat menjadi ketua bidadari bagi seorang lelaki penghuni syurga.

Thoughts? I have a few.



Posted by spursevere
"Setiap umatku (boleh) diampunkan kecuali mereka yang mendedahkan (dosanya), ada di kalangan yang mendedahkan ini, melakukan suatu dosa di waktu malam, berpagi-pagi sedang Allah menutup keaiban dosa itu, namun tiba-tiba dia mendedahkan seraya berkata: 'Wahai fulan, semalam aku lakukan itu dan ini' maka terhapuslah tutupan Tuhannya dan jadilah ia membuka (rahmat) Allah yang (sebelum ini) menutup keaibannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Posted by spursevere
Thursday, June 10, 2010 at 10:17 AM | 0 comments  
It's been a while since I last blogged. This is probably due to the extremely hectic past month. 3 trials, one still on-going (but I have just about had enough of) did not give me any room to breathe. I've stopped going to the gym because of work (still paying though). Lucky for me, two trial dates for today and Friday have been taken off so I have been given a little room to breathe.

I am now sitting in my room, sipping my wonderful Vietnamese coffee after finishing my bekal sandwich whilst casually reading The Sun.

Planned to meet Talib for lunch yesterday at Plaza Damas, but because Sherliza and Daniel wanted to tag along, I actually ended up meeting Talib for all two minutes because he had to leave early. Reason= my colleagues were late. Well it was Sherliza's birthday and her boyfriend surprised her with a bouquet of flowers during lunch time, so I suppose it could be forgiven.

Anyway, yesterday was futsal night. It was raining, but two hours prior to that I received a call from an old friend who I havent heard from in ages, asking me if futsal is still on. I told him yes, and he was at the place since 9. Futsal on Wednesdays is played at Taman Melawati's KK Klub (maybe. Probably a C not a K). The futsal field is actually outdoor, so when it was raining, we couldn't play. No one else was there. So we improvised and played badminton instead.

Thoroughly enjoyable.
Posted by spursevere
Visit the Site
MARVEL and SPIDER-MAN: TM & 2007 Marvel Characters, Inc. Motion Picture © 2007 Columbia Pictures Industries, Inc. All Rights Reserved. 2007 Sony Pictures Digital Inc. All rights reserved. blogger templates